1.
Kronoiogis singkat.
Kota
Padang seabad yang lalu telah menjadi kota metropolitan di
pantai Barat Pulau Sumatera dengan jumlah penduduk yang
cukup padat dari berbagai-bagai suku bangsa seperti Cina
Keling, Belanda dan penduduk pribumi sendiri.
Pada
masa itu kota telah berkembang dan diperluas dengan
masing-masing daerah (distrik) tidiak lupa diberi titik
reverensi baik merupakan bangunan bangunan maupun tugu
yang mempunyai visual yang menjolok dan dapat tertinggal
dalam ingatan (Landmark) diantaranya adalah
-
Tugu
NAALD (didirikan sebagai mengenang pahlawan tentara
Belanda yang tewas pada perang Paderi) didirikan pada
tahun 1824 berlokasi disebelah barat Lapangan Dipo (sekarang
Taman Budaya).
-
Tugu
dan taman MICHELS PLEIN tugu yang terbesar di Sumatera,
yang berlokasi di Taman Melati Sekarang th.1825.
-
Gedung
(rumah bola) “DE ENDRACHT” yang berfungsi sebagai
pertemuan dan pertunjukan, didirikan th. 1847. Gedung
ini tidak saja berfungsi sebagai Landmark juga NODE.
-
Tugu
dan Taman cantik “DE GREVE” (penemu tambang batu
bara Ombilin Sawahlunto) th. 1871 berlokasi di Muara (dekat/di
depan Gedung Nederlandsch Maatschappij).
-
Tugu
NAALD yang didirikan th, 1824 dipindahkan ke Lapangan
Imam Bonjol sekarang. ada th. 1913.
-
Gedung
“STAAD GEMEENTE” (Balai Kota sekarang ) didirikan
th. 1938.
-
Kantor
Gubernur sekarang di Jalan Jenderal Soedirman th.
1969.
-
Dengan
memperhatikan kronologis diatas, bahwa elemen-elemen
kota yang dijadikan Landmark adalah:
-
Tugu/Taman
yang berfungsi sebagai Landmark.
-
Gedung
berfungsi sebagai Landmark juga sebagai node.
2.
Karakter Landmark pada masa Pemerintahan Belanda.
Untuk
jelasnya karakter landmark yang ada pada masa itu (Sampai
tahun 1939) kita perhatikan saja cuplikan fotofoto
dokumentasi (lampiran).
Dapat
dikatakan bahwa tugu-tugu dan bangunan-bangunan yang
berfungsi sebagai landmark terletak pada lokasi yang
penting dan mempunyai bentuk yang berarti, sehingga
kemenonjolan visuil yang tertingal dalam ingatan. Pada
masa itu (sampai th. 1939).
B.
STRUKTUR/SHAPE KOTA.
Struktur
kota Padang dapat diklasifikasikan dari bentuk antara lain
adalah :
-
RADIO
CENTRK , yaitu pada daerah Selatan Kota Padang (Muaro,
Pasar Mudik, Pondok).
-
RECTALINEIR
, yaitu pada daerah bagian Utara (daerah pengembangan
kota).
-
Untuk
jelasnya dapat diperhatikan gambar berikut :

Pemandangan
kota masa kini kekurangan landmark, bukan karena tidak ada
bangunan yang penting, tetapi justru karena terlalu
banyaknya bangunan yang penting saling berlomba untuk
menjadi yang paling menonjol.
Padang
yang merupakan kota yang sedang giat-giatnya membangun,
juga terjadi hal-hal tersebut diatas dalam hal ini akan
dibicarakan masalah yang ada.
1.
Daerah ini merupakan suatu node lalu lintas kota
terletak dipersimpangan Jalan Pulau Karam, Jalan Nipah dan
Jalan Arau (lihat gambar berikut).
Karakter
bangunan disekitar lingkungan merupakan bangunan tua
dibangun pada zaman Belanda tahun 1667 disebut sebagai
Loji. sebelah kanan gedung Javasche Bank yang kemudian
menjadi Kantor Pajak, sebelah kiri gedung Nederlandsch
Handels Maatschappij dan juga terdapat gedung gubernur,
kantor lelang selebihnya adalah gudang-gudang pemenintah
tentera. Pada bagian node lalulintas terdapat taman dan
tugu “DE GREVE” didirikan atas jasanya sebagai penemu
tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto pada tahun 1871,
yang akhirnya tugu dan taman pada lokasi ini hilang oleh
pergolakan zaman. Pada saat sekarang kondisi lingkungan
disekitar node lalulintas ini gedung— gedung peninggalan
sejarah pada zaman Belanda ada yang masih bertahan tetapi
hanya berobah fungsi terhadap aktivitas gedung itu sendiri,
sebagian kondisi bangunan tua dilihat secara keseluruhan
mengalami perubahan bentuk di renovasi dari bangunan lama.
Lingkungan didepan sepanjang Batang Arau terdapat
kios-kios pedagang bangunan terbuat dari kayu merupakan
suatu vista yang tidak baik efeknua terhadap karakter
lingkungan karena area ini terletak pada kawasan rekreasi
bagi kota Padang. Sedangkan pada node lalulintas lokasinya
dimamanfaatkan oleh kios bensin bagi kendaraan. Dalam hal
ini lingkungan yang seharusnya dapat berfungsi sebagai
landmark kota tidak dapat berfungsi seutuhnya dan akan
merusak citra keindahan kota sebagai karakter lingkungan
yang unik yang dapat digunakan sebagai titik referensi
bagi kendaraan dan landmark terhadap kawasan.
2.
”Taman Wisata Yoga” disebelah barat sisi
lokasi terdapat lapangan Imam Bonjol yang dimamfaatkan
sebagai fasilitas olah raga bagi masyarakat (dulunya
bernama Plein Van Rome).
Taman
Wisata Yoga diapit oleh jalan Moh. Yamin jalan Imam Bonjol,
jalan Hasan dan jalan Bagindo Aziz Chan dan merupakan
perbatasan kawasan perdagangan dan per kantoran, karakter
lingkungan bersifat umum (publik) merupakan tempat-tempat
hiburan bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat kota
Padang sendiri selain itu Taman Wisata Yoga merupakan Open
Space bagi kota dan dapat memberikan suatu kesan visuil
yang menyolok terhadap lingkungan kota sebagai tempat
rekreasi di dalam kota Padang. Taman Wisata Yoga letaknya
sangat strategis untuk dimamfaatkan sebagai Taman Kota.
Dalam Hal ini kesan Orientasi terasa hilang vistanya
kelihatan kurang kuat sesuai dengan furigsi dan
kebutuhannya terhadap lingkungan perkotaan disebabkan
adanya bangunan pertokoan yang berada di sekitar
lingkungan taman, khususnya pada bagian Enterence.
3.
Daerah ini merupakan persimpangan jalan Muaro,
jalan R.O.S Cokroaminoto, jalan Gurun dan jalan Nipah:
terletak dekat pantai dimanfaatkan sebagai objek
parawisata bagi kota Padang. Kondisi, jalan direncanakan
pada zaman pemerintah Belanda, menurut peta kota Padang
tahun 1828 pada persimpangan ini terdapat jalan Muaro/Samudera
dulu namanya Strandweg (jalan pinggir laut), jalan Nipah
dan jalan Gurun.
Sebelumnya
pada tahun 1881 di ujung jalan Nipah dibangun Belanda
bukit kecil atau taman yang menghadap ke laut sebagai
objek wisata yang juga merupakan suatu Landmark pada masa
itu, kemudian pada tahun l907 bukit kecil dan taman ini
hancur oleh ombak laut. Sekitar tahun 1885 sewaktu jalan
kereta api direncanakan oleh pemerintah Belanda disekitar
Batang Arau/Muaro telah ada ja lan H.O.S Cokrominoto nama
sekarang ke arah Simpang Enam. Pada keadaan lingkungan
sekarang disekitar pantai digunakan route pergerakan dan
penentu utama dari bentuk kota, dapat dimamfaatkan sebàgai
pembantu memperkuat kesan landmark yang baik. Pada
lingkungan disekitar persimpangan jalan ini kondisi
lingkungan kurang baik terhadap kepermanensian landmark
route pergerakan jalan. vista arah route pergerakan
dimamfaatkan oleh iklan berbentuk boxboard.
4.
Bangunan
Bank Eksim, bangunan ini dapat memberikan vista utama
dan mempunyai sky line yang spesifik untuk dimamfaatkan
sebagai landmark.
Bangunan-bangunan,
baik yang berfungsi sebagai pusat aktivitas maupun yang
simbolis yang ada seperti yang ditampilkan tidak didukung
oleh lokasi yang penting dan bentuk yang bearti karena
terdapatnya bentuk- bentuk bangunan yang menonjol
disekitarnya, jadi kepermanensian dan bentuknya tidak
dapat
Bentuk
landmark kota yang terletak sebelah kantor polisi dan
kantor pos dan giro. Sebelumnya area ini merupakan kios
bensin bagi kendaraan, sekarang telah berganti fungsi
dibangun tugu sebagai landmark kota dalam btuk skala kecil
bersifat monumental yang memberikan vista yang kurang baik
bagi kota dise babkan lokasi tugu kurang mendukung karena
sering tidak terlihat/terabaikan.
“Tugu
Bingkuang (lokasi jalan Prof. Dr. Hamka) merupakan
gambaran (citra)/kepribadian kota. Dar segi penampilan
vista tugu tidak dapat memberikan kesan orientasi/titik
referensi terhadap kepermanensiannya dan karakter
lingkungan sendiri. Bentuk skala,proporsi ,posisi letak
tidak utuh dan harmonis dari komposisi dan existing lokasi
kurang mendukung untuk dimanfaatkan sebagai landmark.